Di pacuan media sosial, terutama jalur Instagram, follower adalah komoditas utama bagi sebagian besar pengguna–kalau tak boleh disebut semuanya. Beberapa orang bahkan giat menempelkan tagar #followforfollow (dalam berbagai versi tulisan) demi mendapatkan buruannya. Sering kali kompetisi yang acap tak diakui ini berkonsekuensi sakit hati, bahkan pada teman sendiri, gara-gara “Kok aku ga difolbek?” atau “Mentang-mentang followersnya udah banyak, aku diunfol. Udah ga selevel ha? ha? ha??”. Oleh karena itu, bagi kamu yang ingin tau cara jitu untuk mengumpulkan ribuan follower–agar tak diunfol, jangan baca artikel ini, ehehe.., karena essay ini berupaya menjelaskan fenomena perburuan follower dari sudut kognisi sosial.

Pertama, kita dapat dikenali dari berbagai dimensi sehari-hari, seperti kondisi sosial, emosional, dan keuangan.

Dimensi yang paling lekat dengan diri kita menjadi pertimbangan utama saat membuat keputusan.

Jadi, bila temanmu termasuk dalam dimensi status sosial (semoga) high-profile di dunia maya, jangan kaget kalau dia memilih tempat hangout yang fancy nan instagramable tanpa peduli harga minumannya. Terlepas dari kondisi keuangannya, pilihan-pilihan dia dipengaruhi oleh dimensi dimana ia berkiblat. Sulit baginya untuk setuju dengan pertimbangan-pertimbangan mu, bila memang dimensinya berbeda.

Prioritas narsisis tersebut berkaitan dengan keinginannya yang kuat pada status, dan sangat termotivasi untuk jadi seleb(gram). Narsisis cenderung menjaga jarak dengan mereka yang tidak berkeinginan menjadi hits, dan bahkan lebih menjauh dari orang-orang yang ia anggap seleb(gram) gagal. Kalau di-unfol, l̶a̶n̶g̶s̶u̶n̶g̶ ̶u̶n̶f̶o̶l̶ ̶b̶a̶l̶i̶k̶ ̶l̶a̶h̶ jangan buru-buru bete. Coba cek profilnya, mungkin followernya sudah ribuan, dan s̶i̶t̶u̶ ̶s̶i̶a̶p̶a̶ ia sedang berjalan di rute dimensinya aja~ Nda usah mara-mara~

Dia tuh fotonya suka à la Kylie Jenner gitu~ Yha lalu? Narsisis ingin menjadi seperti orang famous (mis., selebritis, CEO) hanya ketika mereka menganggap figur publik tersebut serupa (lebih banyak kemiripan daripada perbedaan) dengan diri mereka sendiri. Para calon selebgram yang mengidentifikasi dirinya identik dengan Kylie Jenner, tidak akan memilih outfit dan pose seperti Ria Ricis. Begitu pula dengan orang bakal-calon-famous yang menganggap dirinya lebih serupa baik tampilan maupun nilai dengan politikus, lebih suka memajang foto barengnya dengan Budiman Sudjatmiko atau (syukur-syukur) presiden Jokowi, ketimbang selfie dengan Atta Halilie̶u̶r̶ntar a̶p̶a̶l̶a̶g̶i̶ ̶k̶a̶m̶u̶. Oiya, khusus fenomena foto bareng presiden sebagai simbol pengakuan diri beda lagi ya~ Jadi, singkatnya, mereka hanya memilih arah kiblat yang dianggapnya sesuai. Walaupun anggapan tak selalu sama dengan kenyataan, ehehe..

Mungkin selama kamu baca artikel ini, satu atau dua nama orang terlintas di pikiran mu, atau malah mbatin banyaknya coretan di sepanjang uraian? Tulisan ini u̶n̶t̶u̶k̶ ̶m̶e̶m̶a̶n̶c̶i̶n̶g̶ ̶g̶h̶i̶b̶a̶h̶ bermaksud membantu mu memahami bahwa ada beberapa orang yang berada di dimensi (status) sosial khususnya di dunia maya dan memiliki role-model tertentu. Bila teman mu salah satunya dan tiba-tiba kamu di-unfol atau tak kunjung di-folback, tak perlu sewot, karena kini kamu lebih paham bahwa demikian lah cara kerja kognisinya. Di lain sisi, bukan kah teman sejati tak mesti melulu muncul di instastory? Pertemanan lebih dari sekedar likes dan mutualan kan? Atau sebaiknya kamu tanya lagi ke dirimu, sebetulnya dia itu teman atau sekedar kenalan? ehehe~


Sumber teori Sedikides, Constantine, Ana Guinote. 2018. How Status Shapes Social Cognition: Introduction to The Special Issue, “The Status of Status: Vistas From Social Cognition”.