Duarrrr…!! Belum genap jam enam pagi terdengar ledakan nyaring dan listrik mati. Aku buka jendela, mengecek ke sisi lain apartmen, dan ternyata bukan unit ku saja yang tiba-tiba gelap. Di waktu yang sama bau gosong menyengat, para penghuni lari menuruni tangga darurat. Tepat sesaat setelah keluar unit, seorang tetangga WNA Saudi Arabia bertanya apa yang terjadi. Lalu ia mengajak ku mengecek bau asap di sisi lain gedung dari jendela kamarnya. “The smell’s stronger from my (room) side. I think something’s burning, I prefer to go down to the assembly point.” kata ku. Dia pun turut, bersama ketiga anaknya yang tak terlalu penurut. hehe~ Di titik kumpul, orang-orang sudah berkerumun, sambil melihat ke segala sisi mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, yang pertama ku sadari, banyak orang lupa memakai masker pelindung, dan physical distancing tinggal teori. Sambil berdiri di depan spanduk peringatan “Area wajib menggunakan masker”, aku memaklumi yang terjadi. Ku pikir wajar teralihkan saat situasi mengejutkan. Tapi, iya kah?

Setelah ku ingat-ingat lagi, situasi ini seperti tak asing. Saat dua kali ke lantai dasar sebelumnya, aku juga melihat orang-orang berkerumun di warung-warung. Mereka memilih takjil tanpa khawatir, bahkan ada juga yang membawa bayi. Mayoritas menggunakan face mask, walau tak sedikit yang setengah melepas seperti tak tahan, termasuk anak-anak. Saat aku melihat-lihat sayur si penjual batuk-batuk, spontan aku melangkah mundur. Bila kau pikir aku paranoia, tidak, aku sedang waspada. Tapi ternyata aku saja yang bergerak, pembeli lain santai-santai saja. Setelah berjalan ke taman jauh dari kerumunan orang, aku berpikir “Is it too much?” tentang face mask dan safety glasses yang sedang ku kenakan. Ah sudahlah, aku jelas tak mau mengurangi kewaspadaan, mengabaikan naluri alamiah untuk bertahan dengan alasan “normal” yang berlandas “kebanyakan”. Pun beberapa waktu lalu ada juga penghuni yang lengkap memakai face mask, safety glasses, dan jubah tahan air untuk melindungi diri.

Sebelum kau tertawa, ku ceritakan apa yang ku lihat dari balik jendela. Setelah penerapan Pembatasan Sosial Basa-Basi, masih banyak mobil-mobil pergi di pagi hari dan baru kembali ke parkiran saat petang. Beberapa pengemudi tampak rapi, ada juga yang sekedar memakai kaos dan celana pendek. Ku lihat seseorang pulang tak terlalu siang dan menurunkan plastik belanjaan dari bagasi, padahal di sini ada pusat perbelanjaan ditambah enam minimarket, dan pasti lokasi dalam jangkauan fresh market daring. Kolam renang dan fasilitas olahraga outdoor ditutup, tapi tetap masih banyak remaja berkumpul sekedar merekam video Tik Tok atau Youtube, tanpa pelindung wajah yang sepertinya dianggap mengganggu tampilan. Orang meludah sembarangan juga tetap ada. Walaupun sebenarnya tanpa corona pun melanggar etika. Entah otaknya dimana.

Hand sanitizer disebar di tiap pintu masuk, lobby, dan lift. Seorang petugas keamanan bertugas mengecek suhu tubuh setiap orang yang hendak masuk ke gedung, tapi ya jujur saja kadang iya seringnya tidak. Toko-toko di mall dalam blok hampir semua tutup. Warga sekitar yang biasa berkunjung ke taman apartment juga tak datang. Pengemudi ojek online tak lagi berseliweran, hanya sesekali mampir membawa pesanan makanan. Tetapi ku amati jalan di belakang apartment tetap ramai kendaraan lalu-lalang, padahal ku baca berita di wilayah sekitar setidaknya ada lima orang positif covid-19. Sedangkan di dalam apartment aku tak tahu, tak ada kabar apalagi tes dan pengecekan.

PSBB (Pembatasan Sosial Basa-Basi) di Jakarta dari balik jendela ku terlihat aneh. Beberapa pembatasan diterapkan, tetapi seolah setengah sadar, dan terlalu banyak celah membahayakan. Alibinya ekonomi, tapi banyak karyawan dirumahkan dibilang business risks. Dari jendela ku lihat tetap banyak kendaraan berseliweran. Mencari hiburan di telepon genggam, justru menemukan banyak cerita dan berita yang lebih menggelikan: dari debat istilah, konspirasi, hingga pembolehan pejabat dan DPR untuk bepergian yang katanya demi konsituen. Grafik bukan anak kecil memanjat pohon yang bila diteriaki turun akan menurut, menekan angka persebaran butuh usaha.