Selama pandemi, menghibur diri jadi kegiatan sehari-hari, selain bertukar kabar dengan teman-teman yang ku kira sedang sama susahnya.

Beberapa waktu lalu seorang teman bercerita ia terpaksa LDR dengan suaminya, yang pulang sementara ke negara asal untuk mengurus dokumen izin tinggal. Teman ku yang biasanya ikut, tak terpikir perbatasan akan ditutup, tahu-tahu ia tak bisa menyusul. Schengen yang ia punya ditolak, diminta visa nasional yang berlaku 12 bulan, dan penerbangan pun sudah tak ada.

Lain cerita teman ku di Jawa, ia tak terpisah dengan suami dan anaknya, malah masih bisa rutin mengunjungi ibunya yang beda kecamatan. Informasi tentang pentingnya kewaspadaan membuat si ibu tinggal di rumah, tapi justru jadi buah bibir tetangga. Teman ku berusaha meyakinkan bahwa tinggal di rumah adalah demi kebaikan. Kekhawatirannya bukan tanpa alasan. Sudah empat orang (saat itu) di sekitar desanya yang positif terjangkit covid-19, pun tindakan pencegahan massal hanya penyemprotan desinfektan. Tak ada tenaga kesehatan yang menjaga desa dari pendatang.

Cerita selanjutnya ku dengar saat video call dengan teman-teman. Mereka semua bekerja di Jakarta sebagai personalia. Khas HR, beberapa mengeluh tentang karyawan yang tak patuh. Ada juga yang cerita tentang manager memaksa bawahannya pergi bekerja, saat diingatkan kebijakan WFH, si manager berkilah “Loh itu kan keputusan management, bukan saya!”. Kesal kan? Yang paling mengejutkan, saat salah satu teman bilang tiga karyawan di kantornya terjangkit corona. Saat ku tanya “Staff lainya ODP?”, ia cuma tertawa seolah berkata tidak. :’)

Keluhan tak hanya punya HR, bahkan keluhan teman selanjutnya lebih beralasan. Ia bekerja sebagai pengajar sekolah dasar milik yayasan. Sejak sekolah diliburkan, ia tetap rutin mengajar dengan handphone sebagai media, dan tetap diminta ke sekolah beberapa jam untuk menyiapkan bahan ajar dan membersihkan kelas. Ia sama sekali tak keberatan, justru muridnya yang paling dipikirkan. Kelas daring tak inklusif. Beberapa muridnya tak punya telepon genggam, beberapa tak kuat terus-terusan membeli pulsa. Teman ku tadi paham, dan akhirnya memutuskan berkeliling dari rumah ke rumah dengan sepeda motor yang entah bensinnya ia beli pakai apa. Sudah dua bulan teman ku bekerja tanpa diupah, yayasan pun tak berdaya. Tunjangan sertifikasi miliki pribadi kepala sekolah juga sudah digunakan untuk biaya operasional sekolah. Wali murid yang kebanyakan dari kelas menengah ke bawah menolak membayar iuran, karena merasa tak cukup mendapat layanan. Tak berhenti di sana, teman ku, guru yang upahnya 400 ribu, dihina profesinya hanya modal bacotan. WTF!

Yang lebih menyedihkan, itu bukan satu-satunya kebodohan yang ku dengar. Suatu ketika, entah dari mana asalnya, sebuah komentar dari orang yang tak ku kenal muncul di beranda “Nggak ada APD kok ngancam mogok kerja, Padahal sekolah dokter mahal dan susah masuknya, mereka orang-orang pilihan dan gajinya tinggi. Itu (kerentanan tertular covid-19) kan risiko, kok banyak protes?”. Kira-kira demikian kebodohan yang ku baca dalam bahasa daerah. Entah siapa dan otaknya dimana, yang jelas ku lihat dia di salah satu postingan teman. Padahal, teman ku yang bekerja sebagai tenaga medis, sudah dua bulan tak bertemu orang tua karena tak mau membahayakan. Rindu? Tentu. Dan tahukah kamu, perawat-perawat di RS swasta kecil di daerah banyak yang diupah mepet UMK, padahal kehilangan nyawa jadi risiko kerja?

Soal risiko kerja, jadi wartawan di masa sekarang juga berbahaya. Seorang teman yang untungnya tak kena PHK, masih liputan lapangan tanpa perlindungan yang layak. Namun ia masih bersyukur, setidaknya dapat bekerja dan punya penghasilan, katanya.

Tak sepenuhnya benar, tapi memang banyak yang lebih sial. Teman ku yang lain diterima kerja di Jakarta, dan sesaat kembali ke daerah asal mengambil barang-barang yang diperlukan. Sewaktu kembali, ia mengikuti induksi selama tujuh hari hanya untuk mendengar ia diputus kontrak di hari ke-8 bekerja. Tak bisa apa-apa karena nyatanya dia bukan satu-satunya, bahkan karyawan lama bernasib sama.

Kabar mu bagaimana? Semoga baik-baik saja di sana ya~