Sekolah dan rajin belajar, nasihat membosankan yang terus diulang mulai dari saat sungkem lebaran, omelan guru BK, hingga di dunia politik yang sekedar jadi dagangan. Mengapa kita berangkat sekolah? Bukan kah sebaiknya kita bolos atau keluar saja, karena sekolah kerap memangkas angan demi keseragaman pemahaman? Ah, mereka yang sekolah, terutama lanjutan, cuma buat keren-keranan, kalau tidak ya karena terpaksa dari pada jadi pengangguran~

Why should I be studying for a future that soon may be no more, when no one is doing anything to save that future?

Greta thunberg

Aktivis lingkungan muda, Greta Thunberg dengan lantang mengajak pelajar meninggalkan sekolah dan turun ke jalan. Ia melihat ruang kelas sebagai ruang penyekapan anak-anak, saat orang-orang dewasa pemimpin dunia bermain gaple dengan taruhan alam dan kehidupan. Berangkat sekolah tak lagi berguna, sebab fakta-fakta yang mereka dapat melalui pendidikan diabaikan. Meja, kursi, dan papan tulis dianggap piranti untuk membuat pelajar duduk tenang dan tak ikut berpendapat. Bila menurut Greta, sebaiknya kita bolos saja.

I don’t want revenge on the Taliban, I want education for sons and daughters of the Taliban.

Malala Yousafzai

Kontras dengan Greta, Malala getol sekali menyuruh pergi ke sekolah, termasuk kepada anak-anak dari kelompok yang menembak kepalanya. Bukan, ia tidak sedang mengomel layaknya guru BK. Malala meyakini kebodohan adalah biang keladi konflik, dan sekolah adalah gerbang menuju perdamaian. Dalam kehidupannya, gadis-gadis belia dipenjara oleh stigma bahwa perempuan tak perlu pendidikan. Mereka dijauhkan dari ruang kelas yang sejatinya adalah gerbong kereta yang siap mengangkut mereka melintas cakrawala.

Greta dan Malala bukan dua kutub yang berseberangan, atau hal yang bisa dipertentangan. Keduanya serupa, layaknya dua sisi koin dalam keping yang sama, keping pembebasan. Membolos dan berangkat sekolah adalah jalan persimpangan menuju tujuan yang sama. Greta percaya bahwa ruang kelas seharusnya menjadi ruang demokrasi yang riuh penuh pendapat. Tak hanya mengkritisi institusi penyelenggara, ia juga menegur kita yang dengan mudah mengakses pendidikan, bahwa privilege belajar adalah hutang yang harus dibayarkan ke sesama. Tak ada gunanya memperoleh nilai sembilan, atau bahkan sempurna dengan sederet gelar bila tetap tinggal di dalam kelas tanpa acuh pada apa yang terjadi di kenyataan. Sedangkan Malala mengingatkan, bahwa sekolah adalah tempat melihat berbagai kemungkinan dan kesempatan, yang ironisnya tak dirasakan sebagian penduduk dunia. Keduanya sepakat bahwa manusia harus bebas, termasuk bebas memilih antara membolos atau berangkat sekolah. Namun yang jelas, mengunci pintu ruang kelas sama buruknya dengan Taliban yang menembak kepala Malala saat berangkat ke sekolah.