Di bulan ketiga sejak kasus Covid-19 pertama diumumkan oleh Presiden Joko Widodo, Indonesia mulai kehabisan napas dan ingin menyerah. Tagar #IndonesiaTerserah mulai bermunculan pada pertengahan bulan ini tentu dengan sentimen negatif. Overall post bot score menunjukan 1,68 (hijau) yang artinya 8.265 tweet dengan #IndonesiaTerserah cenderung dikirim oleh pengguna aktif atau bukan bot.

Spektrum emosi yang muncul paling kuat adalah kepercayaan, diikuti dengan kemarahan. Hal ini menunjukan bahwa di bulan ketiga masyarakat Indonesia mulai memasuki puncak ketidapercayaan pada kebiijakan penanganan covid-19 secara umum. Sedangkan rasa marah muncul sebagai mekanisme pertahanan diri dalam situasi ketidakjelasan selama wabah. Selain itu, tagar #hampirgila yang juga menjadi populer merepresentasikan kegelisahan-kegelisahan berkepanjangan. Pada tahap ini, alibi pemerintah tentang “kepanikan masyarakat” apabila data dibuka secara lebar sudah tak lagi relevan. Sudah terlalu terlambat bagi pemerintah Indonesia untuk mengembalikan sentimen positif publik, bahkan untuk membangun rasa percaya. Meski demikian, satu-satunya opsi yang tetap masuk akal adalah keterbukaan.

Emosi ketidakpercayaan menguat setelah sebelumnya di fase awal Covid-19 diumumkan di Indonesia, sentimen kicauan relatif positif yang menunjukan menaruh harapan pada penanganan wabah. Namun, fase menaruh harapan ini tidak berlangsung lama, dan digantikan dengan sikap antisipasi masyarakat yang mulai merasakan ketidakjelasan kebijakan di lapangan. Wacana kebijakan baru yang sedang santer disuarakan, new normal, selain mengindikasikan kelelahan mungkin juga akan menggiring masyarakat ke fase emosi selanjutnya. Tulisan ini akan diperbarui seiring bertambahnya data.