Selain faktor bias sensosi dan bias psikologi (baca: Tragedi Warisan Evolusi I), kelambanan dalam menghadapi persoalan lingkungan juga dipengaruhi oleh bias organisasi dan bias politik. Kedua bias non-individual ini tampaknya juga relevan untuk menjelaskan fenomena kelambanan penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia.

Bias Organisasi

Bias politik mendorong kita untuk menjaga status quo dan menghindari penggunaan sumber daya pada ancaman yang tak masuk dalam kesepakatan yang berlaku. Organisasi adalah tempat bagi kemalasan birokrasi, SOP tetap, kepentingan pribadi, persaingan memperoleh promosi, penekanan biaya, akses ke elit, perang anggaran dan tanggung jawab, dimana semua elemen tersebut membuat organisasi enggan mengadvokasi revisi atau kebijakan baru. Beberapa bias organisasi dipengaruhi oleh karakter organisasi yang (sampai batas tertentu) disengaja, seperti nilai budaya organisasi yang memungkinkan anggotanya untuk berencana, berinvestasi, dan mengorganisir kepentingan pribadinya dalam lingkup institusi .

Terkait kegagalan institusi dalam menyusun rencana untuk menghadapi ancaman baru, Stephen Van Evera mengemukakan alasan mengapa institusi cenderung tidak suka mengkritisi atau mengevaluasi kinerja mereka sendiri. Keseluruhan lingkungan institusi tidak ramah pada adaptasi: mitos, propaganda keliru, dan keyakinan yang tak sesuai zaman bertahan dalam ketiadaan institusi evaluatif yang kuat untuk menguji gagasan-gagasan yang bertentangan dengan logika dan bukti, menyingkirkan ide-ide yang gagal.

Permasalahan selanjutnya adalah sensor. Orang-orang yang mengumpulkan informasi di lapangan tidak masuk dalam struktur pengambil keputusan. Pemimpin kerap menjadi yang terakhir tahu tentang bencana yang akan datang. Manager menengah atau struktur di bawahnya adalah orang-orang yang menghadapi potensi bahaya tersebut sehari-hari dan berhubungan dengan dunia luar. Oleh karena itu, mereka lah yang pertama mendeteksi ancaman atau menyadari metode lama tak lagi relevan.

Saya adalah orang terakhir yang memahami implikasi krisis Pentium. Butuh banyak sekali kritikan sampai akhirnya saya menyadari sesuatu telah berubah, dan kita perlu beradaptasi pada lingkungan yang baru.

Andrew Grove, Intel CEO
Bias Politik

Serupa dengan bias organisasi, politik juga mendorong kita untuk menjaga status quo dan menyingkir ancaman yang benar-benar penting demi kepentingan politik. Politik memberikan banyak motivasi alternatif bagi para pemimpin, partai politik, kelompok lobi, media dan pemilih untuk mengarahkan kebijakan dan insentif ke arah yang mereka sukai, seringkali dengan mengorbankan adaptasi terhadap ancaman yang asli. Dalam realitas politik, perubahan kebijakan yang radikal, terutama tentang ancaman baru atau hipotetis (bukti tampak kompleks, tidak pasti, atau setidaknya kontroversial), sering tak dapat dipertahankan dalam rapat terbatas, sulit memperoleh anggaran yang dibutuhkan, dan menjadi bunuh diri politik. Selama ancaman tersebut baru akan tiba (setidaknya) empat tahun lagi, atau dapat disalahkan ke penyebab eksternal atau pihak opisisi, isu lain akan lebih dulu digarap ketimbang ancaman tersebut.

Masa jabatan juga merupakan poin penting dalam bias politik. Tingkat pergantian PNS atau pejabat politik yang tinggi memungkinkan adaptasi terjadi dari waktu ke waktu, dan sebaliknya, jarangnya pergantian PNS menyebabkan berkurangnya kemampuan dan keinginan untuk beradaptasi, secara bertahap terus menumpuk masalah hingga sistem runtuh dihantam tekanan bencana serius. Bencana secara khusus mungkin efektif untuk menumbangkan rezim petahana, dimana kegagalan tersebut akan menjadi motivasi dan strategi utama oposisi dalam pemilu, atau untuk menyusun kembali koalisi, dan menjadi pertimbangan bagi para pemilih.


Tulisan ini dirangkum dan diterjemahkan dari  Johnson, Dominic, Simon Levin. 2009. The Tragedy of Cognition: Psychological Biases and Environmental Inaction.