Yang tersisa dari Ramadan dalam karantina adalah kerinduan pada lebaran di kampung halaman. Di Magelang, hampir semua orang pergi ke pasar tepat sehari sebelum perayaan untuk membeli kebutuhan (atau keinginan?), prepegan. Selain cemilan untuk disajikan di meja, bunga hias juga ada dalam daftar belanja. Aster, baby’s breath, dan sedap malam adalah yang utama walau masih banyak jenis bunga lainnya. Sewaktu kecil, prepegan adalah ujian terbesar saat puasa, karena di pasar warung-warung makan buka seperti biasa. Tak ada yang sweeping, orang-orang pun tak ambil pusing. Ternyata setelah tumbuh dewasa memang melihat warung buka rasanya biasa saja.

Di desa ku, sehari sebelum idul fitri adalah hari tersibuk. Pagi pergi berbelanja, siang membersihkan dan menata rumah, malamnya memasak berbagai makanan. Tapi, semua lelah terbayarkan di hari lebaran, sebab keluarga, teman, dan tetangga berdatangan. Seusai salat ied, kami (aku dan orang-orang di desa ku) kembali ke rumah masing-masing, sarapan dengan hidangan istimewa yang dimasak bersama keluarga, lalu sungkem dengan orang tua dan semua anggota keluarga yang di rumah, namun tidak terlalu lama. Ritual masih berlanjut dengan berkeliling desa. Semua warga desa termasuk mereka yang pulang dari perantauan, keluar rumah untuk menyapa tetangga dan mengunjungi satu per satu rumah warga lansia. Kami memastikan tak ada satu orang pun yang merasa sendirian di hari lebaran.

Ramai dan bercampur namun akur dan bahagia. Hanya satu dari 365 hari rumah-rumah ditinggal berkeliling tanpa dikunci, es buah dan berbagai jenis minuman lainnya diletakkan di teras. Bila lelah dan dahaga saat berkeliling desa, ambil saja gelas dan minum dimanapun singgah. Bahkan, beberapa rumah punya hidangan khas: seperti Pak Agus yang selalu menyajikan bakso, Mbak War yang menyediakan cilok, dan Wo Yah Min yang selalu membuat gorengan. Lebaran menjadi hari istimewa untuk mencoba berbagai makanan tanpa membayar, bertamu tanpa ketok pintu, dan mengenal semua tetangga yang selama ini hidup dan tinggal di perantauan. Yang paling menarik, selama selebrasi yang memakan waktu setengah hari ini, tak pernah ada berita pencurian, dan tetangga beda iman juga tak ditinggalkan. Hari raya benar-benar menjadi hari meletakan prasangka.

Namun, tahun ini ritual puluhan tahun itu harus libur, dan aku pun tak pulang kampung. Ngaturaken sugeng riyadi dumateng sedaya keluarga, rencang, sanak kadang, saha tangga.